Peserta Quranic Camp Gelombang Pertama Diberangkatkan

Santri peserta Quranic Camp di Multazam 3 Banten 
Banten - Peserta Quranic Camp gelombang Pertama telah diberangkatkan kemarin Ahad, 14 Januari 2024 ke lokasi Kampus 3 Pesantren TEI Al-Multazam Padarincang Serang Banten. Peserta dengan jumlah 20 santri tersebut merupakan para santri Program Takhassus Tahfizh dari santri Putera. Mereka didampingi oleh dua guru tahfizhl Ustadz Muflih dan Ustadz Muhkis.

Para peserta akan mengikuti Quranic Camp ini selama dua pekan, yaitu dari tanggal 14 hingga 28 Januari 2024. Tujuan program ini  dimaksudkan untuk akselerasi para santri dalam menghafal al-Quran dengan suasana  yang lebih sejuk, asri dan hening, sehingga diharapkan para santri akan lebih konsentrasi dalam menghafal al-Quran. Selain itu, ditempatkannya santri  di kampus 3 Banten  juga, sebagai pengenalan kepada santri dan warga sekitar akan lokasi baru Pesantren Al-Multazam kampus 3 yang baru dibangun 6 (enam) lokal beserta mesjidnya selama  hampir 1 (satu) tahun terakhir ini.

Peserta Quranic Camp berkunjung ke Masjid Banten Lama
Para santri peserta Quranic Camp berangkat dari kampus 1 di Rumpin pada Ahad 14/1/2024 pukul 06.30. Selain menuju  kampus 3 Multazam para santri diajak singgah ke Masjid Banten Lama untuk berziarah ke makam Sultan Hasanudin dan para ulama serta pahlawan Banten di sana. Setelah itu mereka juga diajak menikmati pantai Anyer di sekitar pesisir pantai Anyer, sebelum akhirnya menuju ke Kampus 3 Al-Multazam Banten. Mereka tiba di lokasi kampus 3 sekitar pukul 16.30

Rencananya, program Quranic Camp ini akan berlangsung selama dua bulan ke depan hingga menjelang bulan Ramadhan dengan peserta secara bergantian yang terbagi dalam empat gelombang. Gelombang Pertama santri putra Takhassus Tahfizh , santri putri Takhassun Tahfizh, Santri kelas 7 putra dan santri kelas 7 putri. 


Kunjungan Tamu Dari Turki ke Pesantren TEI Multazam: Membedah Pengantar Pemikiran Tokoh Ulama Turki; Syeikh Said Nursi

Memberi Tausiyah di hadapan para santri

Rabu, 13 Desember 2022 Pesantren TEI Multazam - Rumpin dikunjungi dua tokoh dari negara yang berbeda. Pertama DR. Hoca Hasbi Sen (asal Turki) dan DR. Najib al-Saody al-Yamani (berasal dari Yaman). Hoca Hasbi (Hoca: ustadz) berassal dari Turki beristri orang Indonesia, sedangkan Syeik DR. Najib adalah keturunan Yaman dan menjadi dosen di Istanbul Turki.

Dalam kunjungan tersebut bertepatan dengan waktu shalat Ashar, sehingga bakda shalat dan dzikir, mereka didaulat  untuk memberi taujihat wal isrsyadat kepada para santri.

Dalam tausiyahnya, Syeikh DR Najib menekankan pentingnya ikhlas dalam setiap ucapan dan perbuatan, termasuk dalam menuntut ilmu. Ikhlas itu -katanya- semua ucapan dan perbuatan ditujukan hanya untuk dan karena Allah.

Meninjau Kampus 2 Putri

Beliau juga menekankan perlunya persatuan umat Islam dalam bingkai ukhuwah. Jika ukhuwah kuat, maka musuh akan gentar kepada umat Islam.

“Itulah sebabnya saat pertama Nabi saw tiba di Madinah dalam hijrah, langkah pertama yang dilakukan Nabi adalah membangun Masjid dan mempersaudarakan antara muhajirin dan anshar. Membangun masjid untuk menempa iman (hubungan dengan Allah) agar timbul rasa ikhlas dalam setiap perkataan dan perbuatan. Sedangkan persaudaraan dapat memperkuat persatuan di dalam internal kaum muslimin.”  Ungkap Syeikh Najib saat memberi tausiyah dalam bahasa Arab yang diterjemahkan oleh Ust. Haris Nasution.

Berfose di kediaman pengasuh Pesantren
Sementara itu DR. Hasbi Sen menambahkan, “Kami dari Yayasan Nur Semesta mencetak buku-buku yang pernah ditulis oleh Said Nursi ulama Turki. Salah satunya adalah buku berjudul “Al-Ikhlas wa al-Ukhuwah” sebagaimana yang disampaikan oleh Syeikh Najib tadi”. Ungkapnya sambil memperlihat buku kecil berjudul 'Al-Ikhlas wa al-Ukhuwah.'

Beliau menambahkan, “Buku ini sudah dicetak dalam bahasa Arab dan bahasa Indonesia”. Tambahnya dalam bahasa Indonesia

Ramah Tamah di Cafe "SANTRIBACK"
Untuk diketahui, Said Nursi adalah ulama Turki yang mengalami zaman Kesultanan Ustmani dan zaman Turki Sekuler ; Musthofa Kamal at Tatruk. Meski beliau berdakwah dengan cara damai, namun karena difitnah, beliau sempat ditangkap dan di penjara. Namun selama di penjara itu justru beliau banyak menulis buku-bukunya di antaranya “Risalatun Nur”. Beliau bergelar "Badi’uz Zaman" (Cemerlang di zamannya) sehingga nama beliau sering ditulis Badiuz Zaman Said Nursi. Tokoh Said Nursi mulai dikenal luas di Indonesia sejak terbitnya novel “API TAUHID” karya Habiburrahman El-Sheroji yang diterbitkan Republika.

Usai acara tausiyah di Masjid Pondok, rombongan berkesempatan meninjau kampus 2 asrama santri putri yang tidak jauh dari kampus 1 asrama santri putra.

Baik Hoca Hasbi maupun Syeikh Najib al-Yamani berharap semoga dari 1000 santri yang ada di pesantren Multazam ini akan lahir para ulama dan pemimpin umat da bangsa.

Aamiin

Tim Wushu Kungfu Santri Multazam Raih Juara Umum

Pengasuh Pesantren membuka Lomba Wushu Kugfu

Bogor - Tim Wushu Kugfu Santri  Pesantren TEI Multazam meraih Juara Umum pada Perlombaan Wushu Kungfu antar pelajar se-Jabodetabek pada Ahad kemarin 21 Nopember 2023 di Pesantren TEI Multazam Rumpin - Bogor.

Tim Wushu Kungfu Multazam berhasil meraih 7 emas, 6 perak  dan 7 perunggu. Tiga emas di antaranya diraih oleh Akhi Jagad dalam tiga jurus yang berbeda.

Lomba Wushu Kungfu ini diikuti oleh 100 peserta dari 30 sekolah dan pesantren se-Jabodetabek. Dalam sambutan pembukaan lomba, pengasuh Pesantren TEI Multazam KH. Muhammad Jamhuri, Lc.MA. menyambut baik acara lomba ini, “Karena ini bagian dari upaya menjadi mukmin yang baik dan dicintai Allah, sebagaimana sabda Nabi saw: "Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dari pada mukmin yang lemah.” Ujarnya mengutip sebuah hadits Nabi.

Sementara itu, Sartono yang juga Pelatih Wushu di berbagai sekolah sekaligus panitia berharap agar lomba ini dijadikan sebagai ajang silaturrahmi antar anggota Wushu sekaligus menakar kemampuan masing-masing sekaligus belajar untuk meningkatkan kemampuannya

.

Pengasuh Pesantren TEI Multazam Berkunjung ke Kuttab Syaikh Abdul Wahid di Maroko : Gunakan Metode Tahfizh Quran dengan Lauhah

 Catatan Rihlah

Bersama santri Kuttab Syaikh Abdul  Wahid di Maroko 
Senin, 13 Nopember 2023 bakda Ashar, kami meluncur dari Casablanca mengunjungi Kuttab (semacam pesantren Tahfizh Quran) yang dipimpin oleh Syaikh Abdul Wahid yang berada di desa Rhall ujung kota Casblanca.. Saat tiba di sana, kami disambut oleh para santrinya karena sang guru mereka masih dalam perlanan menuju Kuttabnya, "Insya Allah ana ajii ba'da isyrin daqiqoh" Katanya dalam bahasa  Arab melalui seluler.(insya Allah saya akan tiba dua menit lagi).

Metode Tahfizh dengan Lauhah di Maroko
Setelah saling berkenalan, dan disuguhkan jamuan makanan ringan berupa roti, madu, zaitun, kacang-kacangan dan teh hangat, sang Syaikh menjelaskan tentang metode yang diterapkan di Kuttab-Kuttab yang ada di Maroko secara umum. Metode pembelajaranya adalah santri menulis ayat yang akan dihafal pada suatu "lauhah" papan, setelah ditulis, santri membacakannya di hadapan sang guru, kemudian sang guru meluruskan hal-hal yang salah dari bacaannya. Kemudian sang guru pun memperbaiki tulisan yang ditulis santri jika ada kesalahan. Setelah itu santri menghafalnya dan menyetorkan hafalannya di hadapan sang guru. Kemudian guru kembali memperbaiki hafalan murid jika terdapat kesalahannya. Kemudian sang murid diperintahkan kembali menulis ulang ayat yang telah dihafalnya di Luahah, lalu jika terdapat kesalahan maka akan diluruskannya. Demikian seterusnya jika murid akan menambah hafalan ayat quran berikutnya.  "Metode ini menguatkan hafalan anak-anak santri kami, bahkan mereka dapat memvisualisasikan antara bacaannya dan huruf-huruf al-Quran yang telah ditulisnya sendiri di Lauhah." Jelas Syaikh Abdul Wahid

Jamuan menu khas Maroko "Kush-kush"
Selanjutnya kami diajak melihat-lihat kegiatan santri-santrinya dalam menghafal al-Quran serta ikut melaksanakan shalat maghrib berjamaah dan dilanjutkan dengan tadarusan. Budaya tadarusan adalah hal yang menjadi kebiasaan atau tradisi warga Maroko,baik dalam Kuttab maupun di luar Kuttab, terutama setiap bakda shalat maghrib dan subuh. Biasanya tadarusan itu sampai rubu' (seperempat juz), sehingga dalam sebulan mencapai khatam al-Quran.

Sebelum pamitan, kami masih disuguhi makam malam dengan menu khas Maroko  berupa kush-kush yang terbuat dari gandum dan jagung