Pendidikan Model Pesantren Kini Lebih Diminati

Meskipun dewasa ini banyak pihak, termasuk pemerintah, mengindentikkan pesantren dengan radikalisme, namun model pendidikan pesantren justru lebih diminati oleh masyarakat. Hal itu terlihat dengan banyaknya beberapa pesantren yang sudah memenuhi koata penerimaan santri baru, padahal tahun pendidikan dimulai bulan Juli. Beberapa pesantren bahkan membuat iklan pendaftaran “inden” untuk menerima calon santri baru untuk 2, 3, bahkan 4 tahun ke depan, layaknya waiting list dalam sistem pendaftaran ibadah haji. Jika kita mendaftar anak untuk diterima tahun ini, pesantren tersebut sudah tidak bisa menampung, padahal pesantren tersebut sudah menyebarkan calon santri ke beberapa cabangnya.

Ada pula pesantren menerima hampir 1000 calon santri baru, padahal kapasitas untuk menerima calon santri baru hanya 300 orang. Sehingga pada saat diselenggarakan tes masuk santri baru, pesantren ini tidak bisa menampung calon santri baru itu, sampai-sampai untuk mengadakan tes masuk, pesantren tersebut menyewa beberapa ruang convention PUSPIPTEK milik BPPT di kawasan Serpong, Banten.

Kenyataan ini bukan hanya terjadi di daerah jabotabek, di daerah Jawa Tengah, Jawa Barat dan Pulau Jawa saja, namun terjadi pula di beberapa daerah di luar Jawa. Bahkan beberapa pesantren dengan  spp yang tinggi pun tetap  banyak diminati oleh masyarakat.

Fenomena ini terjadi banyak faktor. Secara internal, pesantren kini banyak berbenah diri. Pesantren kini bukan hanya mengajarkan ilmu agama, namun juga memadukan antara ilmu agama dengan sains. Bahkan memadukan antara ilmu agama dengan kewirausahaan (ekonomi). Itulah sebabnya banyak pesantren menggunakan kata “TERPADU” karena memadukan ilmu agama dengan keterampilan (life skill) yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Selain itu, pesantren juga telah bergeser kepada model modern. Sehingga, pesantren tidak lagi dikesankan dengan situasi kumuh, kotor, dan terbelakang. Di samping itu, secara manajerial pesantren pun tidak kalah dengan sekolah-sekolah elit lainnya. Bobot pengetahuan sains dan agama diberikan secara seimbang sehingga tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan sains. Oleh sebab itu banyak anak pesantren menjadi duta dalam pertukaran pelajar antar negara serta menjuarai berbagai olimpiade di tingkat internasional.

Secara eksternal, sekolah-sekolah umum telah “gagal” membangun karakter siswa yang berbudi pekerti mulia. Faktor inilah yang membuat masyarakat kini kurang memberi kepercayaan kepada sekolah-sekolah umum, baik swasta maupun negeri. Bahkan beberapa sekolah negeri di beberapa daerah kini “kurang laku”, hingga ada pemerintah daerah yang mengeluarkan surat edaran atau perda, bahwa anak daerah harus bersekolah di sekolah yang berada di daerahnya karena kekhawatiran sekolah-sekolah daerah tersebut akan kekurangan murid.

Banyaknya siswa yang terlibat kasus-kasus asusila, narkoba, kriminal, tauran bahkan pergaulan bebas di lingkungan sekolah akhir-akhir ini menunjukkan bahwa sekolah umum tidak lagi memberikan rasa aman kepada siswanya. Kenyataan inilah yang membuat masyarakat mulai melirik psantren. Belum lagi kebijakan pemerintah yang gonta-ganti kurikulum setiap pergantian rezim kekuasaan. Berbeda dengan pesantren, yang sebagian kitab atau buku klasiknya masih eksis menggunakan buku tersebut dan selalu aktual, sehingga jika ada seorang adik yang masuk pesantren, dia masih dapat menggunakan buku kakaknya yang juga dari pesantren. Coba bayangkan dengan buku umum, setiap tahunnya terus berganti tergantung “lobi” penerbit dan bongkar pasang kurikulum oleh pemerintah. Faktor-faktor inilah, sekali lagi, yang menyebabkan model pendidikan pesantren sangat diminati.

Faktor lain adalah jiwa kehidupan pesantren yang dibingkai dengan panca jiwa pesantren, yaitu keikhlasan, ketaatan, kesederhanaan, kemandirian, dan ukhuwah yang diamalkan dalam kehidupan pesantren selama 24 jam sehari. Kebiasaan yang dilakukan berkali-kali, terutama pada usia remaja akan menjadi karakter santri. Ada faktor lain yang mungkin tidak dimiliki oleh sekolah umum. Yaitu dalam masyarakat industri yang serba sibuk, dimana terkadang suami dan isteri sibuk bekerja di luar, maka pilihan tepat untuk “menitipkan” anaknya adalah pesantren. Karena di pesantren, anak dididik dan diawasi selama 24 jam. Sedangkan di sekolah umum, keberadaaan mereka hanya 5-7 jam di dalam suasana pendidikan. Di luar itu, anak di luar pengawasan orang tua dan guru. Sehingga tidak aneh jika anak berada di mall bahkan di dalam jam pelajaran sekalipun.

Muhammad Jamhuri
Pengasuh Pesantren Terpadu Ekonomi Islam MULTAZAM
Jum’at, 27 Maret 2015

Tes Masuk Pesantren Multazam Akan Diikuti Sekitar 150 Calon $antri

Bogor- Tes Masuk penerimaan calon santri baru di Pesantren Terpadu Ekonomi Islam Multazam akan diikuti sekitar 150 calon santri baru.

Data yang pendaftar yang sudah masuk saat ini Sudah 130 santri' dan diperkirakarakan akan terus bertambah, bahkan beberapa calon santri dari luar daerah akan mendaftar di hari tes masuk

Tes mauk sendiri akan diadakan pada hari Ahad 29 Market 2015 mulai pukul 09.00. Tes masuk kali ini merupakan tes masuk gelombang pertama. Namun dari jumlah peserta tes masuk diprediksi pendaftaran gelombang ke2 akan ditutup, kecuali para peserta tidak lulus dalam tes masuk gelombang pertama ini.

Melihat fonemena ini, nampak animo masyarakat begitu tinggi terhadap pesantren. Pesantren kini tidak lagi menjadi pilihan alternatif, akan tetapi menjadi pilihan utama dan prioritas.

Pesantren dan Ekonomi Islam

Ekonomi islam atau ekonomi syari’ah mengalami perkembangan yang sangat pesat di indonesia salah satu contoh kongkritnya adalah sektor perbankan syari’ah dengan angka pertumbuhan 18,8 persen secara tahunan (year on year). Saat ini sudah terdapat 11 Bank Umum Syari’ah, 23 Unit Usaha Syari’ah dan 163 BPR Syari’ah dengan total aset mencapai Rp 234,08 triliun (Republika 10/04/14)

Perbankan syari’ah masih terus tumbuh namun angkanya namun masih dibawah 20 persen bahkan belum mampu menembus lima persen dari total pangsa pasar perbankan pada umumnya. Kenapa bisa seperti itu? Jawabannya pasti sangat beragam dan kompleks. Apakah mungkin karna pengkajian dan pendidikan formal ekonomi syari’ah pada umumnya masih terbatas di perguruan tinggi dan belum membumi di lingkungan pesantren-pesantren? Sejauh mana peran pesantren saat ini dalam mengembangkan ekonomi islam? Apa perlu membuat model pesantren ekonomi islam?

Pondok pesantren mempunyai andil besar dalam proses perubahan sosial (social change) di tengah masyarakat. A. Halim, Rr.Suhartini, dkk, (2005) menyatakan bahwa Pondok pesantren sesungguhnya berujung pada tiga fungsi utama yaitu: pertama, sebagai pusat pengkaderan pemikir-pemikir agama (center of excellence). Kedua, sebagai lembaga yang mencetak sumber daya manusia (human resource). Ketiga, sebagai lembaga yang mempunyai kekuatan melakukan pemberdayaan pada masyarakat (agent of development). Sehingga menurut fungsi-fungsi tersebut pesantren punya tanggung jawab memahamkan masyarakat akan sistem ekonomi islam. 

Peran apa yang sudah dilakukan pesantren? DR. H.M. Hamdan Rasyid, MA (2012) mengatakan bahwa Secara garis besar, peran strategis pesantren dalam ekonomi syariah ada dua: Pertama, peran pengembangan keilmuan dan sosialisasi ekonomi syariah ke masyarakat. Contohnya pesantren salafiah syafi’iyah sukorejo menerbitkan buku yang berjudul pemikiran Kiai As’ad tentang ekonomi islam juga pesantren sidogiri yang menerbitkan buku ekonomi islam versi salaf. Buku-buku tersebut bisa menjadi media dakwah ekonomi islam disamping materi ceramah dan khutbah jum’at para kiai yang bertemakan ekonomi islam.

Kedua adalah peran mewujudkan laboratorium praktek riil teori ekonomi syariah dalam aktivitas ekonomi. Pesantren Sidogiri Jawa Timur mempunyai BMT yang mengalami pertumbuhan signifikan. Hingga 2010, omzet keseluruhan mencapai Rp1,3 triliun dalam setahun. Cabang-cabang BMT dan Kopontren mencapai 180 unit di seluruh Indonesia. Tidak hanya lembaga keuangan, pesantren pun banyak memiliki bisnis syari’ah yang riil baik dibidang pertanian, peternakan dan ritel.
Pesantren harus mempunyai target output santri yang tidak hanya terampil membaca dan memahami kitab kuning tapi juga mempunyai keahlian praktis khusus dalam bidang-bidang lain seperti bahasa asing, pertanian, peternakan, perdagangan dan sistem keuangan islam. Keterampilan khusus tersebut bisa menjadi warna dan menambah daya saing pesantren. Alhamdulillah sekarang mulai bermunculan pesantren agribisnis, pesantren wirausaha dan pesantren ekonomi islam.

Pesantren Terpadu Ekonomi Islam (PTEI) Multazam merupakan contoh kongkrit model pesantren ekonomi islam, pesantren yang mempunyai visi mencetak peserta didik yang shaleh, cendikia, mandiri, tangguh, peduli dan berprestasi, serta memiliki jiwa entepreneur yang islami. Di pesantren ini, santri harus memahami sistem ekonomi islam, berprilaku islami dalam bermu’amalah, mengikuti pelatihan dan magang agar mampu mengelola bisnis syari’ah

Menurut kepala pusat pengembangan penelitian dan pendidikan pelatihan kementrian agama H Abdul Jamil, jumlah santri pondok pesantren di 33 provinsi di seluruh indonesia mencapai 3,65 juta yang tersebar di 25.000 pesantren (republika 19/0711). Bayangkan seandainya para kiai dan santri-santri di seluruh indonesia melek terhadap sistem ekonomi islam tentu perkembangan perbankan syari’ah dan lembaga keuangan syari’ah lainnya akan maju pesat. Bahkan apabila model pesantren seperti PTEI Multazam yang visi misinya sangat concern terhadap ekonomi islam semakin banyak berdiri bukan mustahil indonesia akan jadi pusat ekonomi islam dunia, Semoga

Sumber:
http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2014/05/26/pesantren-dan-ekonomi-islam-660148.html

Pesantren, Boarding School dan Ruhul Ma’had



 Oleh: Muhammad Jamhuri
Suatu kali, saya pernah bertemu dengan salah kepala madrasah yang berada dalam naungan suatu pesantren dalam suatu urusan akreditasi madrasah. Sekolah yang dia pimpin sudah lama berdiri. Karena nama sekolahnya pernah saya dengar bahkan sebelum saya menempuh kuliah dahulu. Setelah berkenalan, saya bertanya, “Ustadz, madrasahnya sudah berapa kali diakreditasi?”, “kalau madrasah saya baru kali ini, karena baru berdir empat tahun lalu.” Tambah saya. Ustadz itu menjawab, “Baru pertama kali juga, ya sekarang ini”. Saya agak heran dan bertanya, “Ustadz, bukankah sekolah ustadz ini sudah lama beridiri? Kok, baru pertama ini diakreditasi?” Dia menjawab, “Sebenarnya sudah berkali-kali diakreditasi, namun sebagai madrasah, baru kali pertama ini diproses akreditasi.” Saya tambah heran lagi. Lalu Dia menjelaskan. “Dulu sekolah kami adalah SMP yang berada dibawah binaan kemendiknas, nah saat statusnya SMP, sekolah kami sudah lama berdiri dan sudah diakreditasi berkali-kali. Namun  sekarang kami ubah menjadi MTs (Madrsah Tsanawiyah). Oleh sebab itu, baru kali ini akreditasinya diproses.”

Saya tambah merasa heran, karena bukankah banyak orang dan wali murid yang gandrung kepada SMP dari pada MTs? Mereka lebih bangga memasukkan anaknya ke SMP daripada MTs (madarsah)?. Teman saya itu menjelaskan, “Setelah kami jalani, ternyata status sekolah juga membentuk karakter anak. Nama SMP membentuk karakter dan sikap anak, dari sebutannya saja mereka disebut “anak SMP”. Berbeda saat sekolah kami diubah menjadi madrasah, sebutan untuk mereka sekarang adalah “anak madrasah”. Tanpa menjelaskan lebih rinci, saya sudah mafhum maksud dari penjelasannya. Kabarnya SMA yang ada di pesantren teman saya itu sedang proses embrio menjadi MA (Madrasah Aliyah).

Anda mungkin bisa tidak setuju dengan kesimpulan di atas. Bukankah tergantung kyai, atau kepala sekolah dan gurunya dalam membentuk karakter anak dari pada sekedar nama Sekolah atau Madrasah? Tapi itulah fenomena yang dialami pesantren teman saya itu. Dia me-reformasi “Sekolah” menjadi “Madrasah” karena menurut pengasuhnya hal itu penting.

Dalam suatu kunjungan ke sebuah lembaga sosial (Charity), saya bertemu dengan salah seorang pimpinan lembaga Charity yang banyak berkeliling ke pesantren-pesantren dalam misi memberi bantuan dan kerja-sama. Dalam diskusi ringan, dia bercerita, bahwa kini sering ditemukan guru-guru (asatidz) di sebagian pesantren mengeluh kepada beliau. Pasalnya, bayaran atau spp yang dikenakan kepada santri begitu tinggi (baca: mahal), namun kesejahteraan yang diterima asatidz tidak sebanding dengan spp tersebut. Lebih ironi lagi, kepuasan batin pun tidak didapatkan oleh para asatidz tersebut. Pasalnya, anak-anak santri dirasa kurang menghormati asatidz-nya. Mungkin –menurut teman saya itu- si santri menyikapi guru seperti orang gajian yang diberi gaji oleh orang tua mereka. Mereka juga tidak mendapatkan asupan tentang pentingnya menghormati guru.
Dua kenyataan di atas itulah yang mendorong saya membuat tulisan ini.


Adakah Perbedaan Antara Pesantren dan Boarding School?
Seringkali “pondok pesantren” diartikan dalam bahasa inggris dengan “Boarding School”, atau dalam bahasa Arabnya “Ma’had Islamy”. Untuk sementara memang kata itulah yang cocok untuk terjemah kata “pondok pesantren”. Namun kata “pesantren’ dalam kontek ke-Indonesiaan memiliki ciri khas yang unik dari sekedar “Boarding School” dan “Ma’had Islamy”.
Namun dengan dua alasan fenomena di atas, saya dapat bedakan antara pesantren dan boarding school. Perbedaan ini ada jika memang yang akan saya sebutkan itu ada. Namun jika tidak ada, maka antara pesantren dan boarding school itu sama saja.
.
1.    Ditinjau dari pendirian
Pesantren lebih sering dibangun dari modal nol, lalu sedikit demi sedikit membangun satu kobong atau satu ruang, kemudian berkembang hingga memiliki banyak gedung dan ruang. Sedangkan boarding school dibangun dengan secara sekaligus memiliki banyak gedung, bahkan sebagian gedungnya pun mewah-mewah, fasilitas pun lengkap
2.    Ditinjau dari pendiri
Pesantren biasanya didirikan oleh perorangan, bahkan langsung oleh sang kyainya, atau keluarga besar kyainya atau dengan beberpa temannya dengan idealismenya. Sedangkan boarding school biasanya dibangun oleh suatu lembaga, baik berupa lembaga charity, yayasan, pemerintah atau beberapa pengusaha atau investor
3.    Ditinjau dari pimpinannya
Pesantren biasanya dipimpin oleh seorang kyai yang gelarnya secara alami diperoleh karena kepercayaan dari masyarakat. Sedangkan boarding school dipimpin oleh seseorang yang diangkat oleh lembaga, yayasan, sekumpulan para pendiri atau para investor.
4.    Ditinjau dari kurikulum
Kurikulum pesantren biasanya berbasis kitab-kitab kuning dan kitab berbahasa Arab. Kalau pun bermetafora dengan sistem modern dengan mangadopsi kurikulum pemerintah, namun ciri khas kitab berbahasa Arab tetap dominan, atau minimal sama dengan muatan kurikulum pemerintah. Sedangkan boarding school lebih dominan menggunakan kurikulum pemerintah. Bahkan sebagian boarding school lebih dominan kurikulum materi umum dari pada materi agama.
5.    Ditinjau dari Orientasi Output
Pesantren biasanya berorientasi melahirkan para ulama dan orang yang memberi pencerahan kepada umat, meskipun kini output mereka banyak yang dapat melanjutkan di perguruan tinggi. Sedangkan boarding school lebih berorientasi kepada output yang dapat bersaing di bidang sains dan dapat melanjutkan ke perguruan tinggi umum, namun mereka tetap dibekali ilmu agama.
6.    Ditinjau dari biaya
Pesantren biasanya menerapkan spp/iuran yang dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Akibatnya, fasilitas penunjang pendidikan disediakan apa adanya, kecuali saat pesantren mendapat sumbangan atau bantuan, barulah beberapa fasilitas dapat dilengkapi. Sedangkan boarding school biasanya telah siap dengan berbagai fasilitas. Oleh sebab itu ia diminati oleh orang-orang yang mampu meskipun dengan iuran atau spp yang tinggi.


Ruhul Ma’had Antara Pesantren dan Boarding School
Pesantren di Indonesia sedikitnya mempunyai lima ciri khas yang kemudian disebut dengan  Panca Jiwa Pesantren (Ruhul Ma’had), yaitu keikhlasan (al-ikhlas), kesederhanaan (al-bisathoh), kemandirian (Al-i’timad ‘alan Nafs), ketaatan (at-Tho’ah), dan persaudaraan (ukhuwah). Lima ruhul ma’had (panca jiwa pesantren) inilah yang menghiasi seluruh komunitas dalam pesantren, mulai dari kyai, guru hingga para santrinya.
1. Al-Ikhlas (Keikhlasan)
Seluruh proses pendidikan di lingkungan pesantren harus dilakukan dengan penuh keikhlasan. Karena keikhlasan adalah energi dalam melakukan sebuah amal. Oleh sebab itu, meski dengan fasilitas yang sederhana, namun proses pendidikan di pesantren dilaksanakan dengan penuh semangat, karena dilandasi dengan keikhlasan.
Keikhlasan juga menjadi barometer berkahnya ilmu yang diajarkan kepada para santri. “Berkah” adalah kebaikan yang terus bertambah. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang terus mendatangkan kebaikan kepada penuntutnya. Oleh sebab itu, perubahan sikkap yang terjadi pada diri santri saat sebelum menyantren dan setelah menyantren sehingga terus membaik adalah buah dari keikhlasan. Oleh sebab itu pula, mengapa antara santri dan pelajar di luar berbeda outputnya dalam sikap dan akhlak? Mungkin karena jiwa keikhlasan itu menjadi jiwa keseharian.
Hampir seluruh pesantren dan boarding school pasti memiliki jiwa keikhlasan. Hanya saja mungkin kadarnya berbeda-beda. Keikhlasan suatu pesantren atau boarding school dapat diukur dari orientasinya. Apakah orientasi hanya dunia? Atau akhirat?...Ada sebagian pesantren dibangun dari dana investor dengan perjanjian deviden tertentu bagi investornya. Jika hal ini tidak diniatkan untuk investasi akhirat, maka boleh jadi akan mengurangi rasa keikhlasan kecuali dibarengi dengan muhasabah (evaluasi diri) dan riyadhoh al-nafs (olah jiwa).

2. Al-Bisathoh (Kederhanaa)
Kesederhanaan harus menjadi ciri utama pesantren. Kesederhanaan bukan berarti kurangnya fasilitas. Akan tetapi para santri diajarkan hidup sederhana, dan kyai serta para guru memberikan contoh hidup sederhana. Sederhana dalam sikap, dalam berpakaian, dalam kebutuhan. Uang saku tidak boleh melebihi batas kecukupan, karena berlebihan dalam uang saku akan mendidik anak hidup glamor dan hedonis. Disipilin kesederhanaan ini akan menghilangkan gap antara santri kaya dan santri kurang mampu. Ada santri dalam sebuah pesantren minta berhenti kepada orang tuanya, karena santri itu tahu diri, bahwa ayahnya adalah dari kalangan menengah ke bawah, sedangkan teman-temannya mempunyai orang tua dari kalangan orang kaya. Dia melihat, jika teman-temannya berangkat ke sebuah mini market, begitu banyaknya yang ia beli. Sehingga santri itu berkata kepada ayahnya, “Pak, pesantren ini tidak pantas untuk kita, aku minta pindah saja.”

3. Al-I’timad ‘alan-Nafs (Kemandirian)
Kemandirian jelas sangat terlihat di kehidupan pesantren. Para santri hidup jauh dari orang tuanya. Akan tetapi bukan hanya itu mendidik kemandirian. Para santri juga diberi tugas membersihkan kamar, kelas dan asramanya dengan sendirinya. Membersihkan piring dan meletakkannya pada tempatnya setelah digunakan. Bahkan membersihkan sudut-sudut pesantren. Hal itu dilakukan setiap hari agar menjadi pembiasaan. Sehingga kelak di kemudian hari mereka terbiasa melakukan aktifitas itu. Pesantren bukanlah hotel atau motel yang kebersihan dan kerapian kamar, kelas, kamar mandi, halaman harus dikerjakan oleh prtugas cleaning service. Para santrilah yang menjadi cleaning-service. Beberapa pesantren atau boarding school yang dengan spp atau iurannya tinggi menyajikan layanan kebersihan dengan memperkerjakan petugas cleaning service, sehingga santri tidak mendapat pendidikan kemandirian, terutama dalam mengurus kebutuhannya sendiri. Bahkan pada pesantren tradisional, para santri dituntut untuk masak sendiri, mencuci dan menyetrika baju sendiri bahkan mencari rezeki sendiri untuk menghidupi dirinya sendiri. Meski beberapa item ini sudah dihilangkan akibat sistem pesantren modern, namun pembiasaan kemandirian tidak boleh dihilangkan sama sekali.
Santri yang dibiasakan setiap harinya dengan aktifitas peduli pada lingkungannya, akan terlihat saat mereka liburan di rumahnya. Mereka tidak manja dan selalu membantu orang tuanya dalam membersihkan rumah dan lingkungannya. Kemandirian berekenomi juga perlu diajarkan kepada santri, baik dengan magang di koperasi atau berjualan di lingkungan pesantren tanpa harus menganggu pelajaran.

4. At-Tho’ah (ketaatan),
Sikap patuh santri pada guru dan kyai harus menjadi ciri utama sebuah pesantren. Kepatuhan akan hadir jika kyai dan guru memberikan keteladanan kepada para santri. Sebab ketataatan itu akan timbul jika adanya tsiqoh (trust) kepada yang orang yang ditaati. Dan tsiqoh (trust) akan lahir jika kita memberikan keteladanan (uswah). Sebagai contoh, jika santrinya diwajibkan shalat berjamaah, maka kyai dan semua gurunya melaksanakan shalat berjamaah. Sedangkan pelajaran atau kitab tentang akhlak murid kepada gurunya hanyalah penguat saja timbulnya ketaatan murid kepada gurunya. Faktor utamanya adalah keteladanan. Selain itu, para santri pun perlu diajarkan tentang pentingnya ilmu dan kedudukan orang yang berilmu. Sehingga mereka tidak menyikapi para guru seperti orang gajian yang digaji oleh orang tua mereka. Akibatnya sikap hormat mereka kepada guru menjadi kurang. Di samping itu, guru pun jangan bersikap pilih kasih terhadap anak didiknya, apalagi hanya memperhatikan anak orang kaya saja. Hal ini akan menimbulkan sikap kurang penghormatan, baik dari si anak tersebut maupun anak-anak lainnya.

5. Ukhuwah (persaudaraan)
Suasana persaudaraan nampak dalam kehidupan santri. Mereka tidur bersama, makan bersama, belajar bersama, membersihkan tempat bersama. Bahkan mereka menganggap kyai dan guru seperti orang tua mereka sendiri. Tahapan ukhuwah sudah terbentuk dengan sendirinya, mulai dari taaruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), taawun (saling tolong menolong) dan takaful (saling sepenanggungan) serta talahum (seperti sedarah sedaging). Sikap ini diharapkan akan menjadi karakter mereka selamanya. Bukan hanya pada saat di pesantren saja, namun juga ketika mereka sudah terjun di masyarakat.

Penutup
Baik pesantren maupun boarding school, jika kita setuju membedakan keduanya, keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Alangkah baiknya jika pesantren dapat melengkapi dengan sesuatu yang positif yang terdapat pada boarding school. Demikian juga boarding shool melengkapi dengan sesuatu yang positif yang terdapat pada pesantren. Jika titik ini bertemu, maka Pesantren adalah Boarding School, dan Boarding School adalah Pesantren. Wallahu a’lam.
Rumpin, 18 Maret 2015




Peantren Multazam Adakan StudyTour ke Lubang Buaya dan Islamic Book Fair

Para santri berpose di Monumen Pancasila, Lubang Buaya
Jakarta - Pesantren Terpadu Ekonomi Islam (PTEI) Multazam mengadakan Study-Tour dengan mengunjungi lokasi bersejarah Lubang Buaya dan Islamic Book Fair di Jakarta pada Ahad 8/32015.

Dengan mengendarai 3 unit bus, para santri berangkat dari pesantren pukul 06.00 dan tiba di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya pukul 08.30. Disana mereka menyaksikan film dokumenter peistiwa keganasan G30S PKI, kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa audorama perjalanan sejarah pengkhiantan komunis di Indonesia.

Para peserta dibagi kepada tiga kelompok. Dan masing-masing kelompok mendapat penjelasan dari petugas Museum Panacasila Sakti. Selain itu, para santri pun diajak melihat dari dekat sumur tempat pembuangan para jenderal yang dibunuh oleh para anggota PKI dan Gerwani (oirganisasi wanita PKI)

Usai mengunjungi Monumen Pancasila, para santri berangkat menuju Islamic Book Fair. Selain menyaksikan suguhan acara talk show, mereka pun berkeliling membeli buku-buku islami bermutu. Sebagaimana tahun lalu, tahun ini pun para santri lebih banyak membeli buku kamus dan novel.

Kegiatan study-tour mengunjungi Islamic Book Fair ini menjadi program rutin pesantren, agar mereka mencintai buku dan dan dalam rangka menanamkan minat membaca sejak usia remaja.